THERAPHY SENSORI INTEGRASI
Metode Sensori Integrasi ada salah satu kerangka acuan multi sensori yang digunakan oleh seorang Okupasi Terapis dalam menangani kasus-kasus sensomotorik maupun Integrasi Kognitif.
Disfungsi Sensori Integrasi adalah gangguan proses neurologis yang berhubungan dengan disfungsi dari sistem otak dalam memproses setiap informasi yang diterima oleh panca indera dari lingkungan. Sistem sensori ini berperan penting dalam mendeteksi rangsangan yang berupa rangsang tekan, perabaan, pendengaran, penciuman, perasa dan rangsang nyeri, serta posisi dan gerakan tubuh. Hubungan antara perilaku dengan fungsi otak dalam menindaklanjuti setiap informasi yang diterima panca indera dari lingkungan biasa dikenal dengan istilah Sensori Integrasi (A.Jean Ayres,Ph.D.,OTR in the 1960s)
Strategi untuk mengatur dan menangani Masalah Sensori Integrasi:
Pahami latar belakang masalah yang dimunculkan
1. Mengetahui kebutuhan sensori anak yang bersifat individual
2. Formulasikan strategi yang tepat untuk mencegah masalah yang muncul
3. Support anak untuk memahami kebutuhan sensorinya dan dengan tehnik yang sesuai.
Beberapa tehnik yang digunakan dalam terapi okupasi dengan pendekatan Sensori Integrasi:
1. Wilbarger protocol
2. MORE (Motor, Oral Respiratory and Eye Coordination)
3. Listening therapeutic
4. Sensory base activity
Informasi sensorik (Sensory Information) berasal dari:
1. Mata (Visual)
2. Telinga (Auditory)
3. Hidung (Olfactory)
4. Lidah (Gustatory)
5. Kulit (Tactile)
6. Otot dan persendian (proprioceptive)
7. Keseimbangan/balance (Vestibular)
Anak Autism memperlihatkan perilaku mencari (seek) dan menghindar (avoid).
Contoh perilaku mencari input (sensory seeking behaviour):
- Hiperaktif
- Suka dengan suara keras, berisik, menghidupkan TV dengan suara keras
- Perilaku agresif
- Suka kegiatan: lompat-lompat, panjat-panjat, berayun dan berputar
- Tidak sadar bila dirinya disentuh atau menyentuh orang lain terlalu keras.
Contoh perilaku menghindari input (sensory avoidance behaviour):
- Menolak jika disentuh
- Takut ketinggian, takut bergerak, tidak suka dengan permainan seperti luncuran, ayunan.
- Tidak mau mencoba hal atau permainan baru.
- Tidak nyaman berada di lingkungan yang ramai, seperti suasana pesta, mal.
- Sangat pemilih: hanya suka dengan tekstur kain tertentu, hanya suka dengan jenis rasa, tekstur makanan tertentu, tidak mau mencoba jenis makanan baru.
“Bermain adalah pekerjaan yang dilakukan anak-anak. Melalui itu sang anak belajar tentang dirinya dan dunia sekitarnya. (Sensory Integration International, 1991).
Melalui hal tersebut, Okupasi Terapi memberikan aktivitas pada setiap sesi terapi secara relevan. Setiap anak akan memiliki dorongan dari diri (inner drive) untuk bergerak, bereksplorasi dan belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Yang secara logis saat pembelajaran yang paling baik adalah saat individu mendapat pengalaman yang menyenangkan, memuaskan dan aman. Sesi terapi diterima anak sebagai sesuatu yang memberikan motivasi dan dilakukan dengan bermain adalah sangat penting pada proses dan tujuan terapi.
Sumber: http://www.goldenbraincentre.com